Senin, 09 Juli 2012

Table Wares


TABLE WARES
No
Nama Alat
Gambar
Keterangan
1.
Dinner knife

Digunakan untuk menyantap sajian main course
2.
Steak knife

Digunakan pada makanan steak/berdaging
3.
Fish knife
Digunakan untuk makanan jenis ikan (pisau ikan)
4.
Cheese knife

Digunakan untuk makanan jenis keju (pisau keju)
5.
Dessert knife

Digunakan pada makanan penutup
6.
Appetizer knife

Digunakan pada makanan pembuka
7.
Fruit fork
Digunakan untuk makanan jenis buah
8.
Fish fork
Digunakan untuk makanan yang mengandung ikan
9.
Dessert fork

Digunakan pada makanan penutup
10.
Dinner fork

Digunakan pada makanan utama (main course)
11.
Appetizer fork

Digunakan pada makanan pembuka
12.
Ice cream spoon

Digunakan untuk makanan jenis es krim
13.
Sugar spoon

Digunakan sebagai sendok gula
14.
Soup ladle
Digunakan untuk jenis sup
15.
Coffee/Tea spoon

Digunakan untuk minuman teh atau kopi
16.
Dessert spoon

Digunakan untuk makanan penutup
17.
Dinner spoon


Digunakan untuk makanan utama
18.
Soup spoon

Digunakan untuk makanan berkuah/sup
19.
Appetizer spoon

Digunakan untuk makanan pembuka

Kamis, 05 Juli 2012

Semangat Perjuangan


Menggapai sebuah mimpi besar itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan sebuah perjuangan yang hebat. Kerja keras, doa, usaha, semangat yang tak boleh luntur. Ketika hasil itu keluar, betapa terkejutnya aku. Mimpiku hancur. Harapanku pupus. Usahaku sia-sia. Apakah ini bukan jalanku Tuhan? Mimpi untuk kuliah dalam bidang yang kuharapkan tidak terwujud. Air mata pun menetes saat melihat hasil yang tertulis “Selamat anda diterima di universitas negeri ****** program studi tata boga”. Ini bukan ingin ku. Tidak pernah terpintas sebelumnya bahwa aku akan melanjutkan pendidikanku di tata boga. Aku yang lebih suka mengotak-atik program komputer harus berhadapan dengan panci, penggorengan, sutil. Bagaikan mimpi buruk. Aku tidak suka memasak. Bagiku memasak itu tidak seasik mengklik tools yang ada diprogram komputer.

Berbagai penyesalanpun datang dalam pikiranku. Kenapa aku tidak bias lolos? apakah doa ku kurang? Apa aku terlalu bodoh? Apa aku sial?. Aku terus menangisi diri ini didalam gelap malam yang pekat. Suara detak jam pun turut menangisi pupusnya mimpi indahku. Mengurung diri dalam kamar yang gelap tanpa cahaya lampu dan terus mengutuk diri ini. Tidak ada seorangpun yang tau. Aku takut, terlalu takut untuk mengungkapkannya bahwa aku sedang dalam keadaan sangat tidak baik. Sendiri dan tidak ingin seorangpun mengetahui betapa tidak beruntungnya aku. Dan akhirnya setelah ber jam-jam menyesalkan diri, akupun tertidur dalam linangan air mata. 

Aku berjalan dengan tergesa-gesa dengan tas jinjing dan tentengan plastic besar menuju sebuah gedung yang nampaknya tidak begitu bagus. Gedung tua yang catnya sudah terkelupas dimana-mana, kusam, dan Nampak sedang dalam renovasi. Sebelum aku memasuki pintu gedung tersebut, menaiki tangga yang ubinnya sudah ada yang copot dan retak dianak tangga pertama sebelah kiri. Aku menuju lantai 2 dan berbeloh ke kiri ruangan. Memasuki sebuah dapur yang cukup besar. Meja kerja berjejer rapi membentuk empat persegi panjang yang setiap mejanya terdapat satu kompor gas dengan dua tungku. Sebelah kanan pintu dapur terdapat sebuah lemari stainless steel dengan dua pintu, ketika ku buka pintu lemari tersebut, terdapat tumpukan panci dan kukusan yang tersusun sangat berantakan dan beberapa alat memasak lainnya. Aku mengambil satu kukusan tersebut yang terlihat lebih lumayan dari kukusan lain dan meletakkan diatas meja kerja urutan kedua dari depan. Aku meletakkan tentengan plastic di samping panci tersebut dan memasukkan tas ku ke dalam lemari kecil yang ada di atas tempat cuci piring disebelah kanan meja kerjaku yang disediakan untuk meletakkan barang. Kemudian aku menuju kompor gas dimeja kerja ku dan mencoba menghidupkannya, berkali-kali kucoba tetapi kompor tersebut tidak hidup, aku mulai bingung dan mencoba mengecek gasnya, dan menggerak-gerakkan selang gas tersebut. Lalu aku coba menghidupkannya kembali dan “brrruuuuaaaaaarrrrrrrrrrrrr”. Aku terjatuh dari tempat tidur dengan nafas terengah-engah dan menuju kamar mandi. Menyiram wajah ku berkali-kali hingga setengah badanku basah kuyup. Aku mengambil handuk kecil yang tergantung dibelakang pintu kamar mandiku mengusap wajah ku dan keluar kamar mandi menghadapkan wajahku kekaca. Ternyata hanya mimpi. Sungguh mimpi yang sangat buruk.